Rabu, 02 Juli 2008

Andai Kampar Dilatih Guus Hidink




Perhelatan akbar sepakbola bergengsi Eropa sudah selesai, tenda tenda sudah dibuka dan meja meja sudah dirapikan, kemenangan tim matador dari tim Panzer Jerman menutup helat Euro 2008. Namun ada mimpi menarik dari tidur telat saya gara gara nonton final laga terakhir beberapa waktu yang lalu, saya bermimpi pelatih idola saya Guus Hiddink melatih kampar.

Mimpi yang aneh, karena secara akal sehat itu mustahil, wah bisa keper Bang Sony AB kalau PSBS dilatih lelaki kelahiran negara mantan penjajah Indonesia itu, apalagi bayarannya…. Mahaal, karena menurut manager PSBS Bang Ghafar jangankan untuk bayar pelatih sekaliber itu, untuk bayar pudding pemain PSBS saja pihaknya harus ngutang sana sini. Tapi mimpi saya Guus Hiddink bukan melatih PSBS, tapi melatih Kampar, melatih pemerintah, melatih legislatif dan masyarakat Kampar. Kenapa tidak? bukankah Kampar saat ini menurut banyak orang dalam kondisi kritis bahkan menurut Marhaliman ketua PWI Kampar, penyakit Kampar saat ini sudah sampai pada stadium tiga, dan itu butuh penanganan dengan segera. dan Guus Hiddink adalah solusinya.

Kenapa tidak, bukankah manajemen pembangunan daerah tidak jauh berbeda dengan sepakbola, butuh keterampilan khusus, strategi yang jitu, kekompakan tim, pengalaman yang tinggi dan semangat tim. Dalam sepakbola terdiri dari Kiper sebagai penjaga gawang (kipper), penahan serangan (Bek), pemain tengah (gelandang) dan Sayap yang bertugas membantu penyerangan atau membantu pertahanan dan penyerang (Striker), walaupun Kiper adalah penguasa tunggal gawang namun ia tidak akan bisa menahan serangan lawan tanpa ada kerjasama yang baik para pemain di barisan belakang, begitu juga dengan striker walapun ia punya kuasa sebagai pembawa bola dan pencetak gol namun itu tidak akan mungkin kalau ia tidak kerjasama dengan gelandang dan pemain sayap, karena sebelum sampai ke titik yang tepat untuk menendang bola ke gawang bola itu harus digiring dulu, saling mengoper satu sama lainnya sehingga tidak terjegal lawan.

Begitu juga dengan pemerintahan dan masyarakat, ada sosok yang bertugas mengatur strategi, ada yang bertindak sebagai kiper menjaga administrasi daerah, ada yang harus turun ke gawang lawan berhadapan langsung dengan masyarakat secara tekhnis, ada legislatif, ada unsur lain kepolisian, pengadilan dan sebagainya yang harus saling bersinergi, mengiring masalah masyarakat hingga tuntas dan akhinrya Gool ke arah kesejahteraan.

Memanage daerah tidak akan jauh bedanya dari memanage sepakbola, kita ambil contoh dalam menggolkan satu permintaan masyarakat akan bangunan sekolah, bola keinginan itu harus dimulai dari musrebang, mulai dari desa, kecamatan hingga kabupaten, proposal itu harus digiring terus, dari kecamatan ada yang ke dinas terkait, dinas oper lagi ke Bappeda yang akan merekap dan mencatatnya dalam RAPBD, disini pemain harus hati hati, karena bisa aja bola proposal itu terlempar ke luar lapangan dan hilang begitu saja, kadang perlu sikap tegas atau presurre dari kapten dalam hal ini pimpinan eksekutif atau anggota legislatif. Setelah kondisi aman bolapun digulir ke gawang, peranan striker sangat penentukan, agar gol bisa terjadilah carilah striker dari legislatif maka tendangannya akan lebih mengena dan dengan cepat kaki diayunkan lalu..Goooooool. berhasillah keinginan itu disahkan dalam APBD. ¨

Kembali ke dunia sepakbola, Guus Hiddink dikenal sebagai pelatih bertangan dingin, pengalaman pertamanya menangani timnas Belanda pada tahun 1994-1998, saat itu Guus Hiddink berhasil membawa tim oranye julukan untuk Belanda ke perempat final Euro 1996 dan disusul keberhasilan negara tulip ini memasuki empat besar di piala dunia 1998. Selanjutnya Guus Hiddink melatih Korea Selatan, masa antara tahun 2000 hingga 2002 ini Guus Hiddink menjadi pelatih fenomenal, karena membuat mimpi Asia berkuku di piala dunia menjadi kenyataan, tim negeri Gingseng ini melaju ke peringkat empat piala dunia 2002 dan Guus Hiddinkpun mendapatkan gelar kehormatan dari Korsel.

Lalu Guus Hiddink mengarsiteki timnas Australia, Hiddink tidak hanya membuat tim Socceroos melaju ke babak 16 besar pada Piala Dunia 2006, namun juga membuat warga Austrilia yang selama ini sangat mencintai olahraga Ruby menjadi menggilai bola.. Dan sekarang Hiddink melatih tim Rusia, tim Beruang Merah ini mampu bertahan dan masuk perempat final, Hiddink yang tidak pernah membiarkan tim asuhannya angkat koper pada babak penyisihan major event tetap memiliki tuahnya. Walapun akhirnya gagal meraih juara Eropa karena ditumbangkan tim Matador Spanyol namun Guus Hiddink tetap dielu elukan sebagai pahlawan dan diberikan gelar kehormatan oleh Rusia.

Bayangkan bagaimana kalau Kampar dilatih Guus Hiddink? wah pasti luar biasa, bisa diprediksi bahwa Kampar akan bisa mengurangi carut marut yang ada, angka kemiskinan yang mencapai 24 % dari 600 ribu penduduk mungkin bisa dikurangi, 103 desa tertinggal yang ada saat ini bisa saja ditingkatkan statusnya menjadi sedikit sejahtera, dan banyak persoalan lainnya yang menjadi momok dalam kemajuan Kampar.

Simaklah, ketika Tim Rusia mengalahkan Lithuania 4 - 1 pada babak penyisihan, Hiddink memberikan tekanan tekanan yang menarik, kekompakan dan kebersamaan sangat kentara, bukan hanya itu Hiddink berani menghilangkan senioritas dalam laga ini, ia dengan santai memasukkan pemain baru seperti Roman Pavlyuchenko yang mencetak gol dimenit 56 dan Vladimir Bystrov dimenit ke 80.

Strategi ini munkin perlu untuk Kampar, paradigma paradigma lama dan birokrasi yang lamban perlu diganti segera dengan efeisiensi, kalau perlu ganti sosok lama dengan sosok baru yang energik dan tidak hanya membebek saja dibelakang atas, satu prinsip bahwa jabatan tidak untuk selamanya perlu ditanamkan dengan segera sehingga program program yang dating dari staff dan walaupun berusia muda harus didengarkan.

Dan Hiddink bukan orang yang terlalu memuja seseorang berlebihan, ketika Roman Pavlyuchenko mendapat gelar Man of the match pada laga kedua grup D melawan Yunani, Hiddink malah bersikap tidak perduli. Walaupun Pavlyuchenko yang dinamis dan berkali kali merepotkan pertahanan Yunani namun gagal mencetak gol membuat Hiddink menganggapnya tidak hebat. Hiddink. Menegaskan kemenangan Rusia dari tim yang berjuluk the Pirate Ship adalah berkat kerjasama tim bahkan ia tidak mau mengakui Pavlyuchenko sebagai pemain terbaik

Strategi seperti ini sangat dibutuhkan Kampar saat ini, masyarakat terutama pejabat di Kampar janganlah memuja seseorang berlebihan, apalagi kalau loyalitas itu hanyalah untuk mempertahankan karir dan jabatan, sikap menjilat dan mau cari muka hendaknya harus segera dihapus, karena tidak ada keberhasilan oleh usaha seseorang namun hasil kerja bersama, teamwork, apalagi yang dielu elukan hanyalah orang yang suka ABS saja, namun tidak bias berbuat. Ketegasan Hiddink kalau tidak bisa hasilkan gol bukan hebat namanya, kalau Cuma omong saja tanpa ada bukti di masyarakat tidak ada gunya. Ini zaman bukti Bung..bukan janji.

Dan Guus Hiddink juga bukan orang yang cepat putus asa, ketika anak asuhannya dikalahkan tim Matador Spanyol Guus Hiddink bisa menerima kekalahan, dengan tenang ia menyatakan timnya masih muda dan belum pengalaman menghadapi turnamen besar, namun Guus Hiddink optimis pada wordcup 2010 di Afrika Selatan Beruang merahnya akan menggaum

Seorang pemimpin yang bijak dan masyarakat yang arif tidak akan menyalahkan begitu saja ketika ada bagian yang salah, apalagi sampai mempurukkannya dalam lubang. Karena sebagai pemimpin harusnya bisa saling melindungi dan sama sama memperbaikinya, bukannya saling menyalahkan. Inilah yang sangat kurang di Kampar, kita kebanyakan hanya saling menyalahkan tanpa bisa memperbaikinya, akibatnya negeri serambi Mekkah ini selalu carut marut dengan pertikaian. Kampar memang harus belajar banyak dari Hiddink.

Terakhir, dalam sebuah permainanan, tidak hanya membutuhkan kehandalan, strategi dan taktik namun juga semangat, Semangat adalah Ruh yang memberi makna pada jiwa. Seperti yang dirasakan oleh tim Les Bleus Perancis, kehadiran Zinedine Zidane sebagai kapten Perancis yang sudah gantung sepatu salah satu bukti bahwa spirit tim sangat penting dan Zizou adalah semangat itu.
Sebagai penggemar berat Zizou, hati saya miris ketika membaca luahan hati salah satu pilar tim Perancis Franck Ribery yang menyatakan kerinduannya pada Zizou, ''kami semua merindukan kehadiran Zizou di tim, andai Zizou tidak pensiun... ujarnya, bahkan kiper Les bleus Gregory Coupet mengaku Perancis tidak ada apa apanya tanpa Zizou. Saya juga merindukan Zizou, selain permainannya selalu menarik dan memukau dilapangan hijau, keagamaan dan kegantengannya Zizou juga salah satu hal yang saya sukai dan saya bersyukur bisa melihatnya secara langsung bertatap muka.Duuh Zizou.

Dan Kampar butuh sosok yang mampu menjadi semangat kebersamaan, dulu kita punya sosok Sobrantas yang entah mengapa walaupun dari suku luar namun mampu mempersatukan, sayangnya dalam belasan tahun kebelakang ini kita malah kehilangan itu, agaknya ke depan kita perlu benar benar cermat memilih siapa yang akan menjadi panutan. Atau…mereka yang ada sekarang bisa kok menjadi sosok penyemangat kalau memang benar benar bisa memahami rakyat. Kita Butuh Kapten setangguh Zizou dan kita butuh pelatih se kalibar Guus Hiddink. Sehingga sebagai rakyat kita bisa sama berteriak Go.. kampar..go Kampar… Goooooooooooooooooooool.

Kampar, awal Juli 2008

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster